Halaman depan kami nggak nanam skrip pelacak
3 September 2026
Hampir tiap halaman pemasaran yang kamu buka hari ini nanam setidaknya satu skrip analitik pihak ketiga. Itu udah jadi bawaan, sampai jarang ada yang mempertanyakan.
Halaman depan Wizzy nggak. Bukan karena kami nggak peduli angka — kami peduli — tapi karena pertanyaannya bisa dijawab tanpa itu.
Yang sebenarnya kami butuh tahu
Cuma tiga angka:
- Berapa orang buka halaman depan hari ini
- Berapa yang mulai daftar
- Berapa yang benar-benar jadi bikin akun
Itu doang. Dari tiga angka itu kami bisa tahu apakah perubahan tulisan atau tata letak bikin lebih banyak orang daftar, atau malah lebih sedikit.
Perhatiin bahwa nggak satu pun dari tiga pertanyaan itu butuh tahu siapa pengunjungnya.
Cara kami ngitungnya
Satu tabel di database. Tiap kali halaman dirender, satu penghitung buat hari itu naik satu.
Yang nggak disimpan: alamat IP, jenis peramban, cookie, id pengguna, sesi, atau jejak halaman apa aja yang kamu buka berurutan. Nggak ada apa pun di tabel itu yang bisa dipakai buat nunjuk satu orang.
Yang disimpan cuma: tanggal, nama peristiwa, dan hitungannya.
Karena nggak ada yang mengidentifikasi siapa pun, ini juga nggak masuk wilayah yang butuh spanduk persetujuan cookie — bukan karena kami nemu celah, tapi karena emang nggak ada yang dikumpulin.
Kenapa nggak pakai yang sudah jadi aja
Tiga alasan, dan cuma satu yang soal prinsip.
Kecepatan. Sekitar sembilan dari sepuluh pengunjung kami pakai HP Android kelas menengah. Tiap skrip pihak ketiga di halaman itu ongkos yang dibayar pakai waktu muat, dan halaman yang lambat kehilangan orang sebelum sempat dibaca. Ini alasan paling praktis, dan sendirian aja udah cukup.
Ketergantungan. Aturan kami: jangan tambah ketergantungan yang nggak perlu. Satu tabel dengan satu penghitung itu kode yang bisa dibaca sekali duduk. Skrip analitik pihak ketiga itu kotak hitam yang bisa berubah tanpa kami tahu.
Prinsipnya. Nganter data pengunjung kami ke perusahaan lain buat jawab pertanyaan yang bisa dijawab database kami sendiri itu nggak masuk akal — apalagi kalau data itu sebenarnya bukan milik kami buat dianter.
Yang perlu jujur disebut
Dua hal, biar klaimnya nggak lebih besar dari kenyataannya.
Ini soal halaman pemasaran, bukan seluruh aplikasi. Begitu kamu masuk akun, ada cookie sesi — itu yang bikin kamu tetap login. Itu bukan pelacakan, tapi tetap aja cookie, dan kami nggak mau bilang "Wizzy tanpa cookie" karena itu nggak bener.
Kalau tombol obrolan langsung diaktifkan, itu skrip pihak ketiga. Bukan pelacak, tapi tetap kode dari pihak lain, dan ngirim pesan lewat situ berarti isinya sampai ke penyedia layanan obrolan itu. Ini tertulis di kebijakan privasi, dan kalau dimatikan, nggak ada skrip pihak ketiga sama sekali di halaman itu.
Kami sebut dua-duanya karena artikel yang cuma nyebut bagian bagusnya itu iklan, bukan penjelasan.
Batasnya, dan kami lagi kena batasnya
Cara ini ada harganya, dan kami lagi bayar sekarang: kami nggak tahu pengunjung datang dari mana.
Penghitungnya nyatet bahwa halaman dibuka, tapi kolom sumbernya kosong. Jadi kalau kami posting di dua tempat berbeda, kami nggak bisa bilang mana yang bawa orang.
Itu keterbatasan nyata, bukan trade-off yang enak. Bedanya sama solusi pihak ketiga: kami bisa nutup ini kapan aja dengan nambah satu kolom yang isinya kode kampanye — bukan identitas orangnya. Yang kami hindari itu ngumpulin data pribadi, bukan ngukur.
Bacaan lanjutan: ke mana file kamu disimpan dan kenapa kami nggak pakai React.